Selasa, 14 Oktober 2014

Kearifan lokal, singkong sebagai alternatif pangan


KEARIFAN LOKAL, SINGKONG SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN

Penulis : Qomaruzaman

09 September 2014 

ketela pohon
 
          Artikel ini menjelaskan tentang Kearifan lokal di Indonesia  menajdi sumber   inspirasi dan gerakan. Kampung Cirendeui yang  mengandalkan singkong sebagai bahan pokok telah membuktikan kebijakan yang berbasis kearifan lokal akan memperkuat sistem kemandirian pangan. Sayang  belum ada pemimpin yang  fokus pada kearifan-kearifan lokal. Bagaimana kehidupan masyarakat tanpa nasi? Bagaimana nasib kampung adat ini yang hidup dengan makanan pokok rasi (berang singkong)?

          Masyarakat Indonesia pada umumnya mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Namun warga di kampung Cirendeu, Cimahi, Jawa Barat tetap bertahan pada singkong sebagai makanan pokok. Selain berpegang pada adat leluhur, warga setempat percaya dengan mengkonsumsi singkong disamping sehat dan ekonomis ketimbang makan beras. Inilah kampung Cirendeu yang berlokasi di Kelurahan Leuwi Gajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi Jawa Barat. Sepintas tidak ada yang membedakan antara rumah rumah warga kampung Cirendeu dengan perkampungan lainnya.
Dengan diapit bukit dan diselimuti hawa yang sejuk, kampung Cirendeu memiliki 50 kepala keluarga, atau dihuni sekitar 300 warga.

           Tradisi yang dilakukan warga ini sudah bertahan sejak tahun 1924 hingga sekarang. Seperti halnya yang dilakukan keluarga Wendi ini. Setiap hari secara rutin mencari singkong yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Meski demikian sesuai dengan perkembangan zaman warga kampung Cirendeu kini sudah bisa mengolah singkong dengan beraneka ragam bentuk. Salah satunya masyarakat setempat telah mengolah singkong menjadi tepung nasi atau bahan utama untuk dijadikan nasi singkong.
Proses untuk dijadikan nasipun tidaklah sulit. Karena hanya membutuhkan waktu paling lama 20 menit hidangan nasi singkong sudah siap disajikan.
Seperti masyarakat pada umumnya, warga setempat tetap memberikan hidangan sayur atau lauk pauk lainnya untuk melengkapi menikmati nasi singkong.
Masyarakat tidak bisa melepaskan singkong sebagai bahan makanan utama karena sudah menjadi tradisi dan warisan leluhur adat. Sementara warga lainnya menilai, mengkonsumsi singkong dinilai lebih hemat dan ekonomis juga bisa menjaga kesehatan.
           Tidak hanya dijadikan nasi, masyarakat setempat kini bisa mengolah singkong menjadi makanan pelengkap lainnya seperti kue. Bahkan dari hasil olahan masyarakat olahan setempat, kampung Cirendeu pernah dinobatkan sebagai salah satu daerah dengan predikat ketahanan pangan terbaik di Jawa Barat.***
Pahlawan Pangan. Hal istimewa dari kampung ini yaitu di mulut jalan Desa Cireundeu, terdapat tulisan Hanacaraka “Wilujeng Sumping Di Kampung Cireundeu” dengan arti selamat datang untuk para tamu di daerah Kampung Cireundeu.
Kampung Cireundeu sendiri tidak memposisikan desanya sebagai Objek Daya Tarik Wisata, tetapi lebih fokus pada desa yang masih memelihara tradisi lama yang telah mengakar yang diwariskan oleh tetua adat dulu. Masyarakat Kampung Cireundeu beranggapan bahwa sekecil apapun filosopi kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka wajib untuk dipertahankan.  Ada dua hal menarik yang masih dipertahankan oleh Warga Adat Kampung Cireundeu yaitu bahan makan pokok dan tradisi 1 Sura.
Menurut  Data Pariwisata dan Budaya (2010), masyarakat adat Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut yaitu: “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat” yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat.
Dengan maksud lain agar manusia sebagai ciptaan Tuhan untuk tidak ketergantungan pada salah satu makanan pokok saja, misalnya sebagai bahan makanan pokok negara Indonesia yaitu beras, namun pandangan masyarakat Kampung Adat Cireundeu memiliki alternatif dalam bahan makanan pokok yaitu ketela atau singkong.
Beralihnya makanan pokok masyarakat adat Kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong di mulai kurang lebih tahun 1918, yaitu di pelopori oleh Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asnamah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”, tepat nya pada tahun 1964.
Sebagian besar masyarakatnya menganut dan memegang teguh kepercayaan yang disebut Sunda Wiwitan. Ajaran Sunda Wiwitan ini pertama kali dibawa oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan pada tahun 1918. Salah satu upacara terbesar oleh masyarakat Kampung Adat Cierundeu yaitu 1 Sura.



Legenda Ketela Menjadi Makanan Pokok
           Awal kebiasaan mengkonsumsi ketela sebagai bahan pokok telah menjadi turun temurun. Para leluhur masyarakat Cireundeu pernah berpesan agar mereka menanam ketela menggantikan padi. Berawal sekitar tahun 1918 ketika sawah-sawah yang ditanami padi mengering dan menyebabkan fuso. Untuk mengatasi masalah ini para leluhur Kampung Adat Cireundeu menyarankan untuk menanam ketela sebagai pengganti padi. Karena ketela dapat ditanam pada saat musim kering maupun musim penghujan.
Masyarakat mulai mengkonsumsi ketela dari tahun 1924 hingga saat ini. Selain itu manfaat lainnya warga Kampung Adat Cireundeu tidak terpengaruh oleh harga bahan pokok yang melambung tinggi. Ketahanan pangan masyarakat Cireundeu telah membuktikan karena pada masa pemerintahaan Orde Baru yang menjadikan beras sebagai bahan pokok yang sangat terkenal sehingga masyarakat yang asalnya mengkonsumsi umbi-umbian beralih menjadi mengkonsumsi beras.
Warga masyarakat Cireundeu biasa memaksimalkan tanaman ketela. Mereka dapat mengolahnya menjadi aci atau sagu dengan cara digiling kemudian diendapkan setelah itu disaring. Produk kedua setelah sagu yaitu ampasnya yang kemudian di jemur dan setelah kering menjadi beras nasi, mereka menyebutnya dengan sebutan rasi atau angeun dalam bahasa Sunda. Itulah yang mereka makan untuk sehari-hari.
Akses jalan menuju Kampung Adat Cirendeu dapat di tempuh sekitar 1 jam 30 menit dari alun-alun Kota Cimahi, sedangkan dari alun-alun Bandung bisa menghabiskan waktu tempuh 2 jam.
Berikut ini angkutan umum yang dapat digunakan dari alun-alun Kota Cimahi, yaitu:
  1. Naik angkutan umum jurusan Cimahi-Leuwi Panjang atau Cimahi-Stasiun Hall, kemudian turun di bawah jembatan Cimindi atau pertigaan Cibeureum.
  2. Lanjut dengan naik angkutan warna hijau-kuning dengan jurusan Cimindi-Cipatik turun di bunderan Leuwigajah.
  3. Kemudian naik angkutan berwarna biru langit dengan jurusan Cimahi-Leuwigajah-Cangkorah turun di pertigaan ke arah Cireundeu.
  4. Terakhir, naik angkutan motor (ojeg) hingga pintu gerbang Kampung Adat Cireundeu.
Sedangkan dari arah Bandung dapat menggunakan angkutan umum Stasiun Hall-Cimahi, turun di pertigaan Cibeureum dan naik angkutan yang serupa seperti di atas.
Memelihara Kampung Singkong
Kampung singkong sudah menjadi magnet perhatian dunia tentang sistem pertahanan pangan tanpa mengandalkan padi. Sayangnya, pemerintah malah sempat bersikap tidak bersahabat dengan khazanah kearifan lokal ini.
Pemerintah setempat justru menempatkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah di dekat kawasan kampung adat ini. Langkah pemerintah  telah menimbulkan masalah serius  bagi keindahan dan kelayakan keistimewan kampong adat.

http://www.tempokini.com/2014/06/kearifan-lokal-singkong-sebagai-alternatif-pangan/
 

8 komentar:

  1. nice (Y)
    sangat berguna, tp penulisan kurang rapi hehehehe

    BalasHapus
  2. blog.nya sudah bagus dek, ditingkatkan lagi ya

    BalasHapus
  3. keren mbak, isi postingannya teantang singkong sebagai alternatif pangan, untuk selanjutnya share yang lebih keren ya mbak...
    matur suwun :D

    BalasHapus
  4. Menurut saya, artikel anda sudah cukup baik. Tetapi dirapikan penulisannya.Spasi harus disamakan dalam paragraf baru.

    BalasHapus
  5. isi artikelnya cukup bagus dan baik....

    BalasHapus
  6. blog yang bagus dan menarik, orang yang hanya menggap singkong hanya sebelah mata kini mulai mengenal singkong yang bisa dijadikan sebagai bahan pokok. Singkong juga sangat baik dikonsumsi untuk penderita diabetes, karana kadar kolestrol dan glukosa dalam singkong lebih sedikit dari pada nasi.

















































    BalasHapus